Kamis, 25 Januari 2018

Kisah cinta Romeo dan Juliet

FOKUS: ROMEO JULIET, TRAGEDI CINTA BERLATAR FANATISME SUPORTER

Sebuah kisah percintaan tragis ala Romeo & Juliet yang dipadukan dengan perseteruan suporter Persija Jakarta dan Persib Bandung. Hasilnya adalah film yang menarik, dekat dengan realita dan sarat makna.
Oleh Henry AA

Rangga adalah salah satu anggota The Jak Mania, suporter fanatik Persija. Ia bahkan mengelola toko yang menjual pernak-pernik yang berhubungan dengan klub Persija. The Jak dan Viking dikenal sebagai musuh bebuyutan. Mereka sering bentrok dan saling berkelahi kalau kedua tim saling bertanding. 

Suatu hari, Rangga dan beberapa anggota The Jak memergoki bus anggota Viking sedang berada di Jakarta untuk menonton pertandingan Persib dan Persija. Sontak saja bus diserbu dan terjadi perkelahian. Tapi Rangga ngeliat Desi, salah satu anggota Viking yang cantik dan membuatnya terpesona. Rangga pun jatuh cinta pada pandangan pertama. 

Setelah mendapat informasi tentang Desi, yang ternyata seorang Lady Vikers (klub suporter perempuan Persib) Rangga tidak gentar. Ia memberanikan diri pergi ke Bandung. Singkat kata mereka pun bertemu. Desi dan Rangga akhirnya mengakui kalau mereka saling mencintai. Mereka tidak peduli meskipun mendukung klub yang berbeda dan saling bermusuhan. 

Beberapa teman Rangga mencoba memperingatkan soal Desi yang ternyata kakaknya adalah ketua Viking. Rangga bilang ia tetap mendukung Persija meski jatuh cinta sama pendukung Persib. Sementara Rangga yang beberapa kali datang ke rumah Desi, mengundang kecurigaan beberapa anggota Viking yang merasa kalau Rangga adalah anak The Jak.

Begitu identitas Rangga terbongkar, hubungannya dengan Desi langsung ditentang oleh kakaknya.  Sementara di Jakarta, mulai banyak yang tahu kalau Rangga berpacaran dengan anak Viking. Rangga pun mulai dijauhi teman-temannya, dan tokonya sempat diteror dan dirusak. Untungnya Rangga masih didukung beberapa sahabatnya. 

Berkat dukungan dari teman-temannya itulah, Rangga bertekad untuk menyatukan cintanya dengan Desi yaitu dengan mengajaknya menikah. 
Meski ditentang kakaknya, Desi mendapat restu dari ibunya untuk menikah. Rangga dan Desi menikah di Jakarta. Setelah itu, Desi kembali ke Bandung dan berjanji untuk bertemu di Malang, kota yang dianggap netral buat pendukung Persija dan Persib. 

Rangga pergi ke Malang dan berencana mengajak Desi pergi saat pertandingan Arema melawan Persib. Sayangnya usaha mereka gagal karena keburu dipergoki anggota Viking. Rangga kembali menyusun rencana untuk menjemput Desi. Kali ini, Rangga dan beberapa temannya bertekad pergi ke Bandung. Kalau ada anak The Jak pergi ke Bandung, maka diibaratkan seperti tindakan bunuh diri.

Persija dan Persib termasuk klub sepakbola terbesar di Indonesia. Kedua klub juga berada di dua kota besar dan penting di negara ini. Bukan itu saja, suporter kedua kesebelasan juga termasuk yang terbesar. The Jak dan Viking selalu berseteru dan tiap kali mereka bertemu hampir pasti terjadi keributan. 

Kebencian kedua klub suporter rasanya memang sudah mendarah-daging dan turun-temurun. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, kalau kedua tim bertemu yang datang hanyalah suporter tim tuan rumah. Jadi kalau misalnya Persib dan Persija bertanding di Bandung, maka yang datang hanya suporter Persib dan begitu juga sebaliknya.

Karena itu kalau ada suporter mereka yang saling jatuh cinta dan berpacaran, bisa diibaratkan perseteruan keluarga Montague dan Capulet dalam kisah Romeo & Juliet karya William Shakespeare. Sang penulis merangkap sutradara, Andibachtiar Yusuf atau Ucup, bisa memadukan kisah cinta terlarang itu dengan idenya yang cemerlang dan sangat mengena. 

Suka atau tidak suka, beginilah situasi persepakbolaan kita yang penuh masalah dan tragedi. Diantara perseteruan itu, ada orang-orang seperti Desi dan Rangga yang menyadari kalau fanatisme yang berlebihan bisa merugikan para suporter itu sendiri dan juga orang lain. 

Cerita yang menarik ini ditunjang dengan penampilan para pemainnya yang mengesankan. Sebagai pedatang baru, Edo Borne (pemeran Rangga) berakting dengan natural dan punya chesmistry yang kuat dengan Sissy, pemeran Desi. Setelah menyutradarai film dokumenter yang berhubungan dengan sepakbola, The Jak dan The ConductorRomeo Juliet seperti menjadi sajian yang lebih lengkap dari Ucup. 

Berbeda dengan Gara-gara Bola yang lebih menonjolkan unsur komedi, film ini memang lebih mengena karena secara tidak langsung menyoroti masalah pelik persepakbolaan nasional, terutama fanatisme suporter yang sering kebablasan. Hal itu bahkan diakui oleh Ramdani, salah seorang punggawa Jak Online. 

“Ada yang bilang film ini menjelekkan-jelekkan suporter klub tertentu dan adegan kekerasannya berlebihan. Tapi setelah menonton filmnya, ternyata bagus dan memotret perseteruan The Jak dan Viking dengan apa adanya dan begitulah yang memang kerap terjadi. Secara diam-diam sepertinya ada yang menjalin cinta terlarang seperti Rangga dan Desi, tapi pastinya tidak sedramatis seperti di film, mereka mungkin lebih memilih diam-diam saja,” ujarnya. 

Sudah banyak korban yang jatuh akibat fanatisme yang picik dan sayangnya belum kunjung ditemukan penyelesaian yang jitu dalam menangani masalah tersebut. Menonton film ini seperti menelan pil pahit yang memang sebaiknya diminum demi menyembuhkan salah satu penyakit kronis di dalam tubuh persepakbolaan Indonesia.

Sejarah Arema Singo Edan

Sejarah AREMA SINGO EDAN

Nama Arema pada masa Kerajaan

Nama Arema adalah legenda Malang. Adalah Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama tersebut, yaitu kisah tentang Patih Kebo Arema di kala Singosari diperintah Raja Kertanegara. Prestasi Kebo Arema gilang gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur seperti daun dimakan ulat. Demikian pula pemberontakan Cayaraja seperti ditulis kitab Negarakretagama. Kebo Arema pula yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi Kemudian bisa menguasai Selat Malaka. Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singosari, yang pusat pemerintahannya dekat Kota Malang.

Nama Arema di dekade ’80-an

Sampai akhirnya pada dekade 1980-an muncul kembali nama Arema. Tidak tahu persis, apakah nama itu menapak tilas dari kebesaran Kebo Arema. Yang pasti, Arema merupakan penunjuk sebuah komunitas asal Malang. Arema adalah akronim dari Arek Malang. Arema kemudian menjelma menjadi semacam “subkultur” dengan identitas, simbol dan karakter bagi masyarakat Malang. Diyakini, Arek Malang membangun reputasi dan eksistensinya di antaranya melalui musik rock dan olahraga. Selain tinju, sepak bola adalah olahraga yang menjadi jalan bagi arek malang menunjukkan reputasinya. Sehingga kelahiran tim sepak bola Arema adalah sebuah keniscayaan.
Awalmula berdirinya PS Arema
(Arema Football Club/Persatuan Sepak Bola Arema nama resminya) lahir pada tanggal 11 Agustus 1987, dengan semangat mengembangkan persepak bolaan di Malang. Pada masa itu, tim asal Malang lainnya Persema Malang bagai sebuah magnet bagi arek Malang. Stadion Gajayana –home base klub pemerintah itu– selalu disesaki penonton. Dimana posisi Arema waktu itu? Yang pasti, klub itu belum mengejawantah sebagai sebuah komunitas sepak bola. Ia masih jadi sebuah “utopia”.
Adalah Acub Zaenal mantan Gubernur Irian Jaya ke-3 dan mantan pengurus PSSI periode 80-an yang kali pertama punya andil menelurkan pemikiran membentuk klub Galatama di kota Malang setelah sebelumnya membangun klub Perkesa78. Jasa “Sang Jenderal” tidak terlepas dari peran Ovan Tobing, humas Persema saat itu. “Saya masih ingat, waktu itu Pak Acub Zainal saya undang ke Stadion Gajayana ketika Persema lawan Perseden Denpasar,” ujar Ovan. Melihat penonon membludak, Acub yang kala itu menjadi Administratur Galatama lantas mencetuskan keinginan mendirikan klub galatama. “You bikin saja (klub) Galatama di Malang,” kata Ovan menirukan ucapan Acub.
Beberapa hari setelah itu, Ir Lucky Acub Zaenal–putra Mayjen TNI (purn) Acub Zaenal– mendatangi Ovan di rumahnya, Jl. Gajahmada 15. Ia diantar Dice Dirgantara yang sebelumnya sudah kenal dengan dirinya. “Waktu itu Lucky masih suka tinju dan otomotif,” katanya. Dari pembicaraan itu, Ovan menegaskan kalau dirinya tidak punya dana untuk membentuk klub galatama. “Saya hanya punya pemain,” ujarnya. Maka dipertemukanlah Lucky dengan Dirk “Derek” Sutrisno (Alm), pendiri klub Armada ’86.
Berkat hubungan baik antara Dirk dengan wartawan olahraga di Malang, khususnya sepakbola, maka SIWO PWI Malang mengadakan seminar sehari untuk melihat “sudah saatnyakah Kota Malang memiliki klub Galatama?” Drs. Heruyogi sebagai Ketua SIWO dan Drs. Bambang Bes (Sekretaris SIWO) menggelar seminar itu di Balai Wartawan Jl. Raya Langsep Kota Malang. Temanya “Klub Galatama dan Kota Malang”, dengan nara sumber al; Bp. Acub Zainal (Administratur Galatama), dari Pengda PSSI Jatim, Komda PSSI Kota Malang, Dr. Ubud Salim, MA. Acara itu dibuka Bp Walikota Tom Uripan (Alm). Hasil atau rekomendasi yang didapatkan dari seminar: Kota Malang dinilai sudah layak memiliki sebuah klub Galatana yang professional.
Harus diakui, awal berdirinya Arema tidak lepas dari peran besar Derek dengan Armada 86-nya. Nama Arema awalnya adalah Aremada-gabungan dari Armada dan Arema. Namun nama itu tidak bisa langgeng. Beberapa bulan kemudian diganti menjadi Arema`86. Sayang, upaya Derek untuk mempertahankan klub Galatama Arema`86 banyak mengalami hambatan, bahkan tim yang diharapkan mampu berkiprah di kancah Galatama VIII itu mulai terseok-seok karena dihimpit kesulitan dana.
Dari sinilah, Acub Zaenal dan Lucky lantas mengambil alih dan berusaha menyelamatkan Arema`86 supaya tetap survive. Setelah diambil alih, nama Arema`86 akhirnya diubah menjadi Arema dan ditetapkan pula berdirinya Arema Galatama pada 11 Agustus 1987 sesuai dengan akte notaris Pramu Haryono SH–almarhum–No 58. “Penetapan tanggal 11 Agustus 1987 itu, seperti air mengalir begitu saja, tidak berdasar penetapan (pilihan) secara khusus,” ujar Ovan mengisahkan.
Hanya saja, kata Ovan, dari pendirian bulan Agustus itulah kemudian simbol SINGO (Singa) muncul. “Agustus itu kan Leo atau Singo (sesuai dengan horoscop),”imbuh Ovan. Dari sinilah kemudian, Lucky dan, Ovan mulai mengotak-atik segala persiapan untuk mewujudkan obsesi berdirinya klub Galatama kebanggaan Malang.

Simbol Singo Edan & AREMA memiliki akar Sejarah yang Panjang

Tahukah Anda, bahwa simbol “singo edan” yang kerap di usung Aremania dalam mensupport klub sepakbola  Arema  itu tidak asal comot. Namun punya nilai historis atau akar sejarah panjang dan  khas lokal kota Malang?
Simbol singa (foto) memang secara resmi pernah menjadi simbol kota Malang sejak Staatgementeraat kota Malang menetapkannya pada 7 Juni 1937. Keputusan bernomor A2 407/43 ini disahkan pula oleh Gubernur Jendral pada April 38.  Simbol singa  itu  diberi  “sesanti” berbahasa Latin: Malang Nominor Sursum Moveor (Malang Namaku Maju Tujuanku).
Seperti juga sudah dibahas dalam blog milik Aremania Balikpapan tentang sejarah semboyan kota Malang tempo doeloe yang juga menyebutkan simbol singa sebagai simbol Kota Malang tempo doeloe.
Namun, semangat menyingkirkan apa saja yang berbau kolonial, kemudian menyebabkan Dewan Kota Malang mengubah lambang ini pada tahun  1951. SK No 51 DPRD Malang ini mengubah lambang kota menjadi Burung Garuda dan Macan Loreng, namun waktu itu sesantinya tetap.
Kemudian, pada tahun 1964, lambang kota Malang berubah lagi lewat keputusan DPRGR No 7 menjadi seperti sekarang, yakti simbol Tugu dan Bintang sedanga sesanti baru “MalangkuCeswara” dari bahasa Sangsekerta bermakna “Tuhan Menghancurkan yang Batil”.
Bagaimanapun juga, jelas simbol “singa edan” memiliki nilai lokal dan historis bagi wilayah  Kota Malang  dan sekitarnya. Bahkan Jika ingin menggali lebih dalam, banyak ditemukan pemimpin-pemimpin Malang purba yang bergelar “Singha” atau “Simha”.
Lambang singa itu kalau menurut alasannya sebenarnya diambil dari lambang zodiak bulan Agustus. Sebab Arema sendiri lahir pd 11 Agustus 1987. Terlepas dari lambang kolonial itu sendiri, maknanya pun jauh sekali. Lambang singa kolonial menunjukkan kekuasaan pada koloni-koloni yang didudukinya. Sedang lambang singa Arema adalah menggambarkan pemain-pemain Arema memiliki karakter garang seperti singa sehingga disebut edan (dalam bahasa jawanya).
Sumber: Repro dari Dinas Pariwisata Kota Malang
Logo Arema saat ini.
Entah dengan alasan apapun bahwa kepala singa diambil sebagai simbol atau logo Arema Indonesia, akan tetapi yang penting adalah jiwa singa yang akan selalu mengiringi para pemain Arema kala bertanding itulah yang kita harapkan. Singa yang dalam dunia nyata adalah sebagai raja hutan, maka kita harapkan hal inilah yang akan terjadi kepada Arema. Arema akan selalu menjadi raja dalam kompetisi sepak bola Indonesia. Semangat singa untuk menjaga tahtanya sebagai raja hutan kita harapkan juga akan ada dalam tubuh setiap pemain Arema kala bertanding. Oyi ker?

Kuliner Purworejo

1. Hitam manis si dawet ireng

Wah segar ya siang-siang minum segelas dawet. Dawet merupakan minuman asal Banjarnegara yang berisi cendol. Nah, Purworejo punya dawet versi sendiri yang biasa disebut Dawet ireng (hitam). Dawet ireng berasal dari daerah Butuh, Purworejo. Uniknya dari minuman ini, butiran dawet berwarna hitam. Warna hitam ini diperoleh dari abu jerami yang dibakar kemudian dicampur dengan air, kemudian digunakan sebagai pewarna dawet. Keunikan lainnya yaitu dalam penyajiannya, jumlah dawet lebih banyak daripada kuahnya dan juga santan yang digunakan untuk kuah biasanya diperas langsung dari bungkusan serabut kelapa. Dengan ditambagkan sedikit es, dawet ireng akan sangat menyegarkan jika diminum pada siang hari kan, jangan lupa mencicipi ya.
(Via resepterbaru.com)
(Via resepterbaru.com)

2. Gurihnya geblek, apalagi ditambah saus kacang..

Sebagai teman makan dawet ireng, boleh sambil mencicipi geblek. Geblek sendiri sebenarnya makanan khas dari Kabupaten Kulon Progo, Purworejo dan juga Wonosobo, keunikan geblek dari tiap-tiap daerah ini terletak pada cita rasanya yang unik dan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Geblek terbuat dari tepung singkong dengan bumbu bawang yang kemudian digoreng hingga gurih. Cara menikmati geblek ini bisa dengan dimakan langsung saat masih hangat maupun mencampurnya dengan saus kacang. Dengan bentuk bulat atau seperti setengah angka 8 masyarakat juga menyebutnya gelangan. Kamu bisa menemukan geblek ini di sekitar pasar Baledono, alun-alun Purworejo, ataupun pasar Jenar. Bisa membayangkan gurihnya? Yuk berburu geblek!
(Via cookpad.com)
(Via cookpad.com)

3. Renyahnya rengginang khas lebaran

Dari namanya yang tidak asing, kamu pasti tau apa itu rengginang. Rengginang adalah sejenis kerupuk yang terbuat dari beras ketan yang digoreng hingga renyah, bentuknya bulat dan agak gepeng. Makanan ini merupakan makanan wajib ada saat lebaran. Biasanya rengginang disuguhkan kepada tamu saat lebaran datang. Rengginang juga cocok kamu jadikan oleh-oleh karena makanan ini tahan lama lho walaupun dibuat dengan bahan tradisional dan tidak menggunakan pengawet.
(Via michellecharissa.blogspot.co.id)
(Via michellecharissa.blogspot.co.id)

4. Gurih renyah lanting

Makanan khas Purworejo yang satu ini berbentuk bulat, hampir seperti geblek, namun warnanya coklat keemasan. Terbuat dari singkong yang diolah kemudian digoreng hingga sedikit keras dan gurih. Lanting mempunyai bentuk lebih kecil dari krimpying, bulat seperti cincin. Makanan satu ini cocok apabila dijadikan oleh-oleh karena tahan lama walaupun tidak mengandung bahan pengawet.
(Via rzonlinestore.blogspot.co.id)
(Via rzonlinestore.blogspot.co.id)

5. Warna-warni cenil yang bikin ketagihan

Makanan satu ini bisa dibilang unik, hal ini sudah terlihat dari warna-warnanya yang cantik. Cenil terbuat dari pati ketela pohon atau tepung kanji yang diolah sedemikian rupa, diberi warna kemudian direbus. Bentuknya ada yang bulat-bulat kecil seperti kelereng ada juga yang berbentuk kotak. Disajikan dengan ditaburi parutan kelapa dan gula pasir kemudian dibungkus dengan daun pisang. Kamu wajib mencobanya jika mampir ke Purworejo ya. Cenil biasa dijajakan di pasar-pasar tradisional sehingga mudah ditemukan.
(Via jepretanlensa.blogspot.com)
(Via jepretanlensa.blogspot.com)

6. Uniknya clorot

Nah, makanan khas yang satu ini bentuknya bisa dibilang unik karena berbentuk lonjong dan menyerupai terompet. Clorot terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan gula merah kemudian dibentuk menyerupai terompet dan dibungkus dengan janur kuning (daun kelapa) lalu direbus. Cara makan clorot ini terbilang unik karena kamu tak perlu repot membuka bungkusnya, kamu hanya perlu menekan janur yang ada di unjung kemudian clorot akan keluar dengan sendirinya. Clorot sendiri saat ini sudah sulit ditemukan, namun kalau kamu ingin berburu clorot kamu bisa mampir di pasar Grabag.
(Via ksmtour.com)
(Via ksmtour.com)

7. Si hitam manis kue lompong

Kue lompong berasal dari Kutoarjo, Purworejo, dengan warna hitam dan rasa yang manis. Warna hitamnya didapat dari batang talas atau lompong yang direbus hingga hancur dan dicampur dengan adonan kue. Saat menggigit kue ini kamu akan mendapati kacang sebagai isiannya sehingga rasanya makin enak. Kue lompong dibungkus dengan daun pisang kering yang biasa disebut klaras. Klaras ini juga membuat rasa kue lompong makin unik dan khas.
(Via innocentry.blogspot.com)
(Via innocentry.blogspot.com)
Selain 7 makanan tadi, masih banyak makanan khas dan unik yang dapat kamu temui jika berlibur di Purworejo. Yuk ajak keluarga dan teman-temanmu ke kota “Berirama” ini agar liburanmu makin lengkap dengan kulinernya yang enak. Share dan komentar ya bagaimana pendapatmu. Salam Kuliner!

PEMBANGUNAN TATA KOTA KAB. PURWOREJO | ALUN-ALUN PURWOREJO | TEAM BPT

Kamis, 04 Januari 2018

Tempat Wisata di Purworejo

#1. Curug Muncar

Curug Muncar
Bagi anda yang menyukai petualangan alam maka curug muncar bisa menjadi salah satu destinasi wajib bagi anda. Jika anda kesini, anda harus mempersiapkan fisik anda dalam kondisi baik karena jalan menuju curug mancar relatif menanjak.
Namun, sesampai di sana semua perjuangan anda akan terbayarkan oleh keindahan alam yang luar biasa.
Alamat:
Desa Kaliwungu, Kec. Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

#2. Curug Silangit

Curug Silangit
Satu lagi air terjun yang layak anda kunjungi, Curug Silangit…
Uniknya, disini terdapat tiga buah tingkatan air terjun. Curug pertama memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Curug kedua sekitar 10 meter atau setinggi pohon kelapa. Sedangkan yang paling bawah sekitar 10 meteran.
Bagi anda yang suka berenang, tenang saja karena setiap curug dibawahnya terdapat kedung/kolam dengan rata-rata kedalaman lebih dari 5 meter.
Alamat:
Dusun Jeketro, Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah

#3. Gua Seplawan

Gua Seplawan
Bagi anda yang ingin menikmati indahnya perut bumi, anda dapat menuju goa seplawa yang lokasinya tak jauh dari curug silnagit.
Tak hanya keindahan dalam gua yang dapat anda lihat, disini anda juga dapat menikmati pesona alam dari gardu pandang di dekat goa seplawa.
Alamat:
Desa Donorejo, Kec. Kaligesing, Kab. Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia

#4. Pantai Jatimalang

Pantai Jatimalang
Seperti yang sudah saya singgung di atas, purworejo terkenal akan pesona pantainya. Pantai yang pertama adalah pantai Jatimalang…
Pantai yang berada sekitar 18 kilometer dari pusat kota ini memiliki keindahan pantai selatan dengan pasir hitam. Biasanya wisatawan paling ramai untuk mengunjungi pantai ini menjelang matahari terbit maupun tengelam.
Alamat:
Desa Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo.

#5. Pantai Keburuhan

Pantai Keburuhan
Pantai keburuhan atau yang dikenal dengan pantai pasir pancu ini bisa menjadi destinasi wisata anda senjutnya ketika sedang berkunjung ke purworejo.
Anda perlu menempuh jarak sekitar 22 kilometerdari pusat kota untuk dapat menikmati deburan ombak dengan pasir hitam di pantai keburuhan.
Alamat: Keburuhan, Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia

#6. Pantai Ketawang

Pantai Ketawang
Selanjutnya ada pantai ketawang,
Sama seperti pantai lainya yang ada di purworejo, pantai ini memiliki pasir hitam danjuga deburan ombak yang khas dari laut selatan pulau jawa.
Alamat:
dusun Ketawang, desa Ketawangrejo, kecamatan Grabag, Purworejo.

#7. Taman Sidandang

Taman Sidandang
Yang terakhir, ada Taman Sidandang.
Lokasinya relatif dekat, anda hanya perlu nenempuh 20 menit atau sekiat 17 kilometer saja. Jalanan menuju lokasipun cukup bagus dan sudah beraspal. Disini anda dapat berenang dan berfotoria dengan potret alam yang indah.
Alamat:
Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.

Kisah cinta Romeo dan Juliet

FOKUS: ROMEO JULIET, TRAGEDI CINTA BERLATAR FANATISME SUPORTER Sebuah kisah percintaan tragis ala Romeo & Juliet yang ...